Hidup di Dunia Untuk Akhirat
Hidup di Dunia Untuk Akhirat
Tujuan hidup ini adalah mencari ridho Allah SWT. Hidup di dunia menentukan akhirat kita. Menikah bukanlah akhir dari segalanya, justru menikah adalah perjuangan yang sangat panjang. Diajarkan akan kedewasaan, saling peduli tidak egois, saling mengalah dan memaafkan, ataupun saling menyayangi melebihi rasa sayangnya pada diri sendiri. Itulah mengapa Allah begitu mencintai hambaNya dan membuatNya begitu ridho karena saking terharunya melihat dua insan yang memiliki napsu dan akal bisa saling mengasihi lebih dari dirinya sendiri. Inilah merupakan bentuk kuasa Allah SWT yang luar biasa. Pasangan hidup kita atau jodoh kita merupakan anugerah terbesar dariNya untuk kita. Bagaimana kita mendapatkan separuh agama, bagaimana kita dapat menyempurnakan agama kita sedangkan kita saja tidak saling memahami pasangan kita, justru selalu bertengkar dan menyalahkan justru hanya mendapat dosa bukan pahala.
Seorang buah hati bukan hanya hidup bahagia di dunia. Masih ada akhirat yang kekal. Kita pun tak selamanya muda dan bersama anak. Maka anak perlu di bekali mental, moral, akhlak, dan ilmu yang dapat membuatnya memimpin diri sendiri menjadi perlindungan dalam dirinya serta takkan dapat terpengaruh hingar-bingarnya dunia. Dialah yang akan merawat kita saat tua nanti, dialah yang akan mendo'akan kita saat kita telah tiada. Anak-anak akan dewasa dan meninggalkan orang tua, orang tua takkan selalu bersama anaknya, saudara akan memiliki keluarganya masing-masing, teman tak selalunya ada dan kita tak selalunya bermain. Maka dengan siapa lagi hidup di dunia ini jika bukan dengan istri/suami kita. Maka berdo'alah, mintalah kepada Sang Maha Cinta agar diberikan jodoh yang baik untuk dunia dan akhirat.
Butalah mata dari kecantikan, kegantengan, kekayaan, jabatan, dan kenikmatan-kenikmatan yang takkan selamanya ini. Namun akhlak, moral, hati yang baik, dan kepribadian seseorang lah yang kerap sukar di rubah. Harta bisa di cari, kegantengan bisa dibuat.
Perjuangan tak ada yang mudah, namun Tuhan selalu berikan jalan.
Tirakat hidup ini bukan dengan bersemedi, tapa di tempat angker ataupun dengan ritual-ritual seperti orang zaman dulu lakukan. Tirakat zaman kini adalah dengan menjaga diri dari nafsu dan arusnya zaman. Teruslah bertirakat dalam hidup ini, takkan berubah saat memiliki, justru semakin tambah bersyukur dan giat.
Jomblo sampai halal. Biarlah sibuk mencari ilmu, pengalaman, wawasan, belajar kedewasaan, mematangkan diri sendiri. Apakah kita akan belajar menjadi seorang istri, seorang ibu, seorang suami, seorang ayah ketika SETELAH MENJADI? Justru hal demikian belajar sejak SEBELUM MENJADI diharapkan SETELAH MENJADI tinggal evaluasi ataupun memiliki cara/metode yang lebih baik dalam merancang sebuah tujuan. Karena hidup dan waktu ini begitu cepat berlalu. Apakah kita akan keteter menghadapi segala problematika kehidupan? Maka persiapkan diri dengan matang. Bismillah🤲
Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yun, waja'alna lil muttaqina imama. Artinya: "Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa."